BAB I PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, KEDUDUKAN DAN FUNGSI SEJARAH DAKWAH
RESUME BUKU
“SEJARAH DAKWAH” KARYA
1.
DR. HARJANI
HEFNI, LC, MA.
2. WAHYU ILLAHI,
S.AG, M.A.
3. DR. H. M.
HIDAYAT NURWAHID, M.A.
BAB I-BAB 3
BAB I
PENGERTIAN,
RUANG LINGKUP, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI SEJARAH DAKWAH
A.
Pengertian Sejarah Dakwah
“Sejarah Dakwah” berasal dari dua kata, yaitu “sejarah” dan
“dakwah”. Sejarah berasal dari bahasa Arab “syajarah” yang berarti pohon. Dalam
bahasa Arab sendiri , “sejarah” disebut “tarikh” yang berarti penanggalan atau
kejadian berdasarkan urutan tanggal dan waktu. Orang Inggris menyebutnya
“history” yang berasal dari bahasa Yunani “istoria”. Istoria berarti ilmu untuk
semua maccam ilmu pengetahuan tentang gejala alam, baik yang disusun secara
tidak kronologis maupun tidak.
Kini kata “sejarah”, history, dan tarikh telah mengandung
arti khusus yakni “masa lampau umat manusia”. [1] Sedangkan “dakwah” secara
etimologis (lughatan) berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan. Kata da’a
mengandung arti: menyeru, memanggil, dan mengajak. “Dakwah”, artinya seruan,
panggilan, ajakan kepada Islam.[2] Dengan demikian, “sejarah
dakwah” dapat diartikan sebagai peristiwa masa lampau umat manusia dalam upaya
mereka menyeru, memanggil dan mengajak umat manusia kepada Islam serta
bagaimana reaksi umat yang diseru dan perubahan-perubahan apa yang terjadi
setelah dakwah digulirkan, baik langsuang maupun tidak langsung.
B.
Ruang Lingkup Sejarah Dakwah
Pembatasan
ruang lingkup kajian dakwah berangkat dari jawaban pertanyaan kapan dakwah
Islam dimulai. Setidaknya ada dua pendapat besar tentang permulaan dakwah,
yaitu:
1.
Peneliti yang menjadikan permulaan dakwah adalah
pada masa Rasulullah SAW. pendapat ini merujuk kepada terminologi khusus dari
dakwah islamiah, bahwa Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi SAW.
2.
Penelitian lain berpendapat bahwa permulaan
dakwah adalah sejak diutusnya para nabi dan rasul. Pendapat ini merujuk kepada
terminologi umum dari dakwah islamiah, bahwa dakwah para nabi hakikatnya adalah
satu. Seluruh Rasul telah menyampaikan Islam dalam arti yang luas.
Bagi peneliti yang berpendapat bahwa “sejarah dakwah” Islam
dimulai sejak adanya Rasul, mereka memulai kajiannya dari dakwah Nabi Nuh as.
Alasannya adalah karena Nuh merupakan rasul pertama yang diceritakan oleh
Al-Qur’an tentang aktivitas dakwahnya. Sedangkan Adam as. Tidak diutus kepada
seseoranh. Dia diturunkan ke muka bumi ini untuk memulai sejarah panjang
kehidupan anak manusia dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Tidak
ada atsar yang menjelaskan tentang kenabian Adam as. Yang ada hanya cerita
dalam Al-Qur’an tentang anaknya Qabil dan Habil yang melakukan kurban.
Berdasarkan dua pendapat di atas,maka bahasan mata kuliah
“sejerah dakwah” seharusnya dapat dimulai sejak dimulainya dakwah, yaitu sejak
Nabi Nuh as. Sampai “sejarah dakwah dunia Islam modern”. Sedangkan aspek
kesejarahan yang dipotret adalah aktivitas umat dalam memenuhi perintah Allah
SWT. Untuk menyebarkan agama, membina masyarakat, dan mempertahankanya dari
seragam musuh-musuh Islam. Sejarah Islam juga memotret bagaimana perjuangan
menegakkan agama dalam rentang masa yang begitu panjang ini mengalami pasang
surut.
C.
Kedudukan dan Fungsi Sejarah Dakwah
1.
Untuk mengetahui bagaimana strategi perjuangan
para rasul dan kegigihan mereka dalam menyebarkan dakwah tauhid
2.
Mengidentifikasikan penyakit umat setiap zaman
dan bagaimana mencari jalan keluar dari penyakit tersebut.
3.
Menentukan sikap dalam berdakwah dengan becermin
dari sejarah yang benar.
4.
Mengetahui faktor kemajuan dan kemunduran dakwah
dari masa ke masa
5.
Untuk memupuk semangat perjuangan para da’i
6.
Mengetahui sejauh mana dakwah Islam telah dapat
mempengaruhi dan merombak jalannya sejarah, atau telah berhasil menciptakan
realitas sosiokultural baru.
7.
Memprediksi apa yang bakal terjadi dengan peran
Islam di masa mendatang dalam rangka penataan kehidupan masyarakat baru.
D.
Sekilas Tentang Sejarah Dakwah Dalam Al-Qur’an
Sejarah dalam Al-Qur’an adalah sejarah yang mengungkapkan
tentang siklus kehidupan dan sunnatullah yang tidak pernah berubah. Al-Qur’an
selalu mengungkapkan pertarungan antara hak dan batil, yang pada akhirnya
kemenangan akan selalu berada pada pihak yang membela kebenaran. Al-Qur’an juga
mengubah persepsi manusia tentang kemenangan yang lebih diartikan dengan
kesuksesan meraih sesuatu yang dicita-citakan di dunia. Kemenangan menurut
Al-Qur’an adalah kekuatan mempertahankan keistikamahan dan ketegaran prinsip
tauhid sampai ajal menjemput. Dalam Al-Qur’an banyak bercerita kepada kita
tentang tingkah pola umat manusia terdahulu yang akhirnya mendapatkan azab dari
Allah, dan bagaimana kiat-kiat para mushlihun (reformis) pada zamannya untuk
menyelamatkan masyarakat dari azab Allah.
Komentar
Posting Komentar