Kesehatan Mental terhadap Kebutuhan


A.    Pengertian Kesehatan Mental

Istilah “kesehatan mental” diambil dari konsep mental hygiene. Kata “mental” diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Mental hygiene merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan pencegahan dari kemungkinan timbulnya kerusakan mental. Kesehatan mental terkait dengan;

1.      Bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari

2.      Bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain, dan

3.      Bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.

Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental sangat penting bagi setiap fase kehidupan. Kesehatan mental meliputi upaya-upaya mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan.

Menurut Dr. Zakiah Daradjat, kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.

Kesehatan mental menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

B.     Hakikat Kebutuhan

Kebutuhan (hajat) adalah suatu yang dibutuhkan manusia dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya yaitu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dengan beribadah secara maksimal.

Inilah prinsip dasar dalam setiap aktivitas manusia menurut Islam, yaitu senantiasa mengaitkannya dengan tujuan utama manusia diciptakan yaitu ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Allah menghiasi manusia dengan hawa nafsu (syahwat), dengan adanya hawa nafsu ini maka muncullah keinginan dalam diri manusia.

C.     Macam-Macam Kebutuhan Manusia

1.      Kebutuhan Biologis

Menurut Kartini Kartono (1989), kebutuhan biologis seperti kebutuhan akan makanan, minuman, udara segar, pakaian untuk bertahan terhadap cuaca, tidur, rumah, perlindungan dan lain-lain. Jika kebutuhan-kebutuhan pokok dan biologis dari manusia tersebut tidak dipenuhi, maka hal tersebut menyebabkan ancaman bagi eksistensi manusia itu sendiri. Bila kebutuhan itu sering dihambat akan dapat menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dan gangguan jiwa dari taraf yang paling ringan hingga ke taraf yang paling berat.

2.      Kebutuhan Sosial Budaya dan Psikologis

Kebutuhan sosial budaya adalah kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial tentunya sering melakukan interaksi sosial, saling membutuhkan, tolong menolong, bersahabat, bercinta, mereka saling mengutamakan kerukunan. Namun  sementara orang ada yan g saling membenci, bermusuhan, egois hanya mementingkan diri sendiri dan sejenisnya yang berbentuk asosial. Hal ini terjadi bersumber dari individu-individu yang tidak seimbang, dilanda ketidakpuasan, congkak, dan sombong, ingin menang sendiri, bila dikaji, secara alami manusia sejak lahir atau bayi memnbutuhkan pertolongan orang lain, tanpa bantuan, tanpa diasuh dengan kasih keberadaannya akan terancam, apa lagi dalam mengaktualisasikan diri dengan usaha-usaha yang gigih dan bertahap. Bagi individu yang sehat mentalnya dalam berinteraksi menerima pengaruh-pengaruh secara selektif, bahkan dapat memberi andil dalam menegakkan kerukunan yang positif dan inovatif.

Kebutuhan psikologis adalah kebutuhan yang diusahakan individu untuk memenuhi  dorongan-dorongan yang sesuai dengan keinginan, selera, sehingga memuaskan jiwa atau mentalnya. Individu sebagai makhluk yang selalu berubah dari keadaan kini menjadi keadaan yang akan datang. Dengan mengalami perubahan mungkin merasa puas, senang, bahagia, karena apa yang terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Maka individu selalu ceria, percaya diri dan optimistis. Sebaliknya bagi mereka yang tidak beruntung muram, rendah diri, karena keinginannya tidak tercapai.

3.      Kebutuhan Metafisis dan Religious

Kebutuhan metafasis adalah kebutuhan yang bersifat dinamis, otonomi kemerdekaan. Dengan kemampuan itu manusia membuat kemungkinan masa mendatang, membuat rencana yang berarti. Tiap pencapaian hasil biasanya merupakan titik tolak pada aktivitas baru, yang mengarah pada tingkat kemanusia/ human. Manusia selalu mempertahankan eksistensinya, sebab merasa dirinya mempunyai arti di dalam kehidupan. Sebaliknya bila merasa tidak mempunyai arti, hidup ini akan terasa hampa dan kosong diikuti keraguan dan ketakutan.

Manusia ingin mempertahankan eksistensinya di manapun, di alam ini bahkan di atas ruang waktu. Bentuk tertinggi dalam pemberian arti bagi dirinya, bahwa akunya dalam hubungannya terhadap Maha Pencipta ingin bersatu/ kembali dengan Maha Abadi/ Absolut. Berarti manusia mempunyai kebutuhan fundamental pada nilai-nilai metafisik.

Selain kehidupan materialistis masih ada kehidupan spiritual yaitu kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri kepadanya-Nya dengan kepercayaan bersujud dengan caranya sendiri-sendiri dengan kepercayaan (agama) masing-masing niscaya akan mendapat ketentraman. Segala derita atau kesusahan disertakan kepada-Nya. Bagi yang baru menderita dapat rela menerima kenyataan sebagaimana takdir-Nya dapat memperoleh keseimbangan mental.

Kehidupan spiritual sangat penting kaitannya dengan kesehatan mental. Karena spiritual menghindarkan seseorang dari stressor dan membuat pikiran seseorang yang mengalami stres masih dapat berpikir rasional dan mengingat Tuhan. Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi sehingga akan dapat memunculkan perasaan positif pada kesehatan mental seseorang.

D.    Dampak Dari Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi

Apabila ada kebutuhan yang tidak terpenuhi atau terhambat maka dapat menimbilkan rasa frustasi yaitu keadaan dimana seseorang sedang kalut, terlalu banyak masalah, tekanan, atau suatu harapan yang diinginkan tidak dapat terpenuhi. Frustasi ini dapat mengakibatkan berbagai bentuk tingkah laku. Dia dapat melempar dan menghancurkan dirinya sendiri maupun dapat memotivasi dirinya untuk memulai perjuangan baru. Jadi, frustasi itu dapat menimbulkan situasi yang menguntungkan(yang positif) tapi juga dapat menimbulkan situasi yang merusak(yang negative). Bentuk reaksi frustasi yang sifatnya membangun atau positif adalah sebagai berikut :

1.      Mobilisasi dan Penambahan Kegiatan

Frustasi itu dapat memobilisir seluruh kepribadian dan memaksa mengaktualisasikan potensi-potensi lama dan potensi-potensi baru. Kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi tantangan. Tantangan ini dapat terlalu berat, maka terjadilah kegagalan dan kemusnahan yang tragis namun ada pula tantangan yang terlalu ringan atau kecil sifatnya, maka terjadilah keberhentian atau dekadensi psikis pada manusia.

2.      Besinnung (berfikir secara mendalam disertai wawasan jernih)

Besinnung yaitu berfikir secara lebih dalam dengan wawasan yang lebih tajam serta menggunakan akal budi dan kebijaksanaan. Sehingga tersusun satu reorganisasi dari aktifitas manusia. Besinnung memanggil perspektif-perspektif baru, memberikan kemungkinan-kemungkinan lain dan memberikan kesempatan untuk menilai arti dari frustasi tersebut menurut porsi sebenarnya.

3.      Resignation

Resignation adalah tawakal dan pasrah pada Illahi. Pasrah dan menerima situasi dan kesulitan yang dihadapi dengan sikap yang rasionil dan sikap ilmiah. Sikap ilmiah itu antara lain mencakup mampu melakukan koreksi terhadap kelemahan sendiri, tidak picik pandangannya, bersikap terbuka, sanggup menerima kritik dan saran, berani mengakui kesalahan sendiri, jujur serta objektif.

4.      Membuat Dinamis Irriil Satu Kebutuhan

Kebutuhan-kebutuhan tertentu dapat mengalami atrofi, yaitu bisa lenyap dengan sendirinya karena sudah tidak diperlukan atau tidak sesuai dengan kecenderungan pribadi saat itu.

5.      Kompensasi atau Subtisusi dari Tujuan-tujuan

Kompensasi ialah usaha menggantikan atau usaha mengimbangi. Kegagalan seseorang dalam satu bidang dialihkan pada usaha pencapaian sukses di bidang lain. Perasaan rendah diri dan perasaan kalah yang disebabkan oleh kelemahan, kegagalan, dan cacat sendiri, diusahakan mengimbangi atau menghilangkannya dengan bekerja lebih giat untuk mencapai satu prestasi dan kecakapan khusus di bidang lain. Lalu dihidupkan satu spirit perjuangan baru yang agresif dan tidak mau menyerah.

6.      Sublimasi

Sublimasi adalah usaha untuk mensubstitusikan atau mengganti kecenderungan-kecenderungan yang egoistis, nafsu-nafsu seks yang animalistis, dorongan-dorongan biologis yang primitive dan aspirasi-aspirasi sosial yang tidak sehat, kepada tingkah laku yang lebih tinggi atau luhur, yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

Komentar

  1. Men\'s Titanium Wedding bands | The Art Bureau
    Men\'s Titanium Wedding bands | The Art Bureau at the Tombola Hotel & Casino will titanium bar stock provide titanium engine block details on the men\'s titanium titanium solvent trap monocore wedding bands located at titanium plumbing the Tombola Hotel & Casino omega seamaster titanium

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer